psikologi ambiguitas
mengapa orang yang tahan dengan ketidakpastian lebih sering beruntung
Pernahkah kita menatap layar ponsel, menunggu balasan pesan penting yang tak kunjung datang? Titik-titik typing muncul, lalu hilang lagi. Menyebalkan, bukan? Otak kita seolah gatal ingin segera tahu kepastiannya. Rasanya kita semua sepakat bahwa ketidakpastian itu sangat tidak enak. Entah itu menunggu hasil wawancara kerja, menanti kejelasan status hubungan, atau menebak-nebak arah kondisi ekonomi yang sedang naik turun. Semuanya menguras energi. Tapi, coba perhatikan lagi lingkaran pergaulan teman-teman. Pasti ada satu atau dua orang yang anehnya terlihat sangat santai saat badai ketidakpastian melanda kehidupan mereka. Lebih aneh lagi, orang-orang yang santai ini sering kali berujung mendapatkan peluang-peluang terbaik. Lingkungan sekitar biasanya menyebut mereka "si hoki" atau "si anak beruntung". Apakah ini cuma kebetulan kosmis? Atau jangan-jangan, ada sesuatu di balik cara kerja otak mereka yang membuat keberuntungan seolah menempel terus? Mari kita bedah pelan-pelan.
Untuk paham kenapa ketidakpastian itu terasa sangat menyiksa, kita harus mundur sedikit ke zaman purba. Otak kita sebenarnya adalah mesin prediksi yang sangat canggih. Ribuan tahun lalu, nenek moyang kita bertahan hidup bukan karena mereka paling kuat, tapi karena mereka jago menebak pola lingkungan. Kalau ada semak-semak bergoyang, otak purba mereka langsung berteriak, "Itu harimau, cepat lari!" Mereka yang memilih diam untuk memastikan apakah itu sungguhan harimau atau sekadar angin lewat, biasanya berakhir menjadi makan siang. Secara evolusioner, otak kita dirancang untuk menyamakan ambiguitas dengan ancaman maut. Di dunia psikologi, dorongan kuat untuk segera mendapat jawaban yang pasti ini disebut Need for Closure. Saat kita dihadapkan pada situasi abu-abu yang serba tidak jelas, amygdala—pusat rasa takut di otak kita—langsung menyalakan alarm tanda bahaya. Tubuh kita dibanjiri hormon stres kortisol. Kita jadi cemas dan ingin jawaban secepatnya, meskipun jawaban itu kadang tidak akurat atau terlalu buru-buru. Pokoknya asal semuanya menjadi jelas. Tapi masalahnya, dunia modern kita sekarang bukanlah sabana Afrika. Semak yang bergoyang hari ini bisa jadi adalah teknologi baru, krisis yang rumit, atau jalan karir yang memang belum pernah ada petanya.
Nah, di sinilah letak teka-tekinya. Jika secara biologis otak kita memang dirancang untuk membenci ketidakpastian, kenapa ada orang-orang yang justru bersinar terang di area abu-abu ini? Para ahli psikologi memiliki istilah khusus untuk fenomena ini: Tolerance of Ambiguity atau toleransi terhadap ambiguitas. Ini adalah sebuah kelenturan mental untuk tetap tenang, atau bahkan merasa penasaran, saat informasi yang tersedia sangat minim dan membingungkan. Pertanyaannya, apakah orang-orang ini memiliki struktur otak yang berbeda dari kita? Dan yang paling membuat penasaran, apa hubungannya kemampuan menahan diri di situasi tidak jelas ini dengan label "sering beruntung" yang mereka dapatkan? Apakah menoleransi ketidakpastian adalah semacam kode curang kehidupan yang diam-diam bisa membuka pintu-pintu rahasia? Jawabannya ternyata berkaitan erat dengan bagaimana mata dan otak kita menyaring kenyataan sehari-hari.
Mari kita bongkar rahasia ilmiahnya. Keberuntungan, secara psikologis, sering kali bukanlah sebuah sihir. Seorang ilmuwan bernama Richard Wiseman pernah melakukan riset panjang dan mendalam tentang orang-orang yang merasa dirinya beruntung dan sial. Hasilnya sangat mengejutkan. Orang yang merasa "sial" biasanya sangat tegang dan fokus berlebihan pada satu tujuan pasti. Saking tegangnya mencari kepastian, mereka kehilangan visi periferal. Mereka ibarat memakai kacamata kuda. Sebaliknya, orang yang memiliki toleransi ambiguitas tinggi tidak pernah terburu-buru mencari kesimpulan akhir. Karena mereka lebih rileks saat berhadapan dengan ketidakpastian, sudut pandang mereka tetap terbuka lebar. Di sinilah "keberuntungan" itu akhirnya tercipta. Saat kita bisa duduk tenang dalam ketidakpastian, kita sebenarnya sedang memberi waktu pada otak bagian prefrontal cortex untuk memproses lebih banyak variabel secara logis. Kita jadi lebih jeli melihat peluang acak yang muncul di pinggir jalan. Keberuntungan bukanlah sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit, melainkan kemampuan mengenali peluang saat orang lain sedang sibuk panik mencari kepastian. Orang dengan toleransi ambiguitas tinggi berani mencoba rute baru tanpa tahu ujungnya di mana, berani mengobrol dengan orang asing tanpa ekspektasi, dan tidak langsung hancur saat rencananya harus berbelok arah. Di mata orang luar, mereka terlihat sangat beruntung. Padahal, secara neurobiologis, mereka hanyalah orang-orang yang menolak untuk segera menutup pintu kemungkinan.
Pada akhirnya, menjadi toleran terhadap hal yang serba tidak pasti bukanlah berarti kita pasrah pada nasib atau hidup tanpa rencana sama sekali. Ini adalah murni tentang melatih kelenturan mental kita. Mengubah respons otomatis kita dari "saya harus tahu kepastiannya detik ini juga" menjadi "mari kita lihat dulu ini akan bermuara ke mana" memang butuh latihan panjang. Sangat wajar jika kita merasa cemas saat masa depan terlihat buram; itu hanyalah cara otak purba kita yang sedang berusaha keras melindungi kita dari bahaya. Kita sama sekali tidak perlu memusuhi rasa takut itu. Namun, pelan-pelan, kita bisa mulai melatih otot empati pada diri sendiri saat kebingungan melanda. Sesekali, cobalah biarkan pertanyaan tanpa jawaban menggantung di udara sedikit lebih lama. Siapa tahu, di dalam ruang abu-abu yang selama ini mati-matian kita hindari itulah, keberuntungan sedang duduk diam, menunggu kita untuk sekadar menoleh dan menyapanya.